contoh penerapan kaidah Amr dan Nahi dalam kehidupan sehari-hari

   PENERAPAN KAIDAH AMR DAN NAHI               DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT 


1. Pengertian Amr


Amr menurut bahasa adalah perintah, suruhan, tuntutan. Sedangkan amr menurut istilah ialah:


طلب الفعل من الأعلى إلى الأدنى


“Suatu tuntutan untuk mengerjakan (atau berbuat sesuatu) dari yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah kedudukannya.”


Bisa juga didefinisikan:


هولَفْظٌ يُطْلَبُ بِهِ الأَعْلَى مِمَّنْ هُوَ أَدْنَى مِنْهُ فِعْلاً غَيْرَ كَفٍّ


“Suatu lafadz yang dipergunakan oleh orang yang lebih tinggi derajatnya untuk meminta bawahannya mengerjakan sesuatu pekerjaan yang tidak boleh ditolak.”



Menurut Khalid Abdurrahman, amr merupakan kata yang menunjukan permintaan untuk melakukan apa yang diperintahkan dari arah yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah. Maksud ungkapan yang lebih tinggi kedudukannya dalam al-Qur’an adalah Allah, sebagai pemberi perintah, sedangkan yang lebih rendah kedudukannya adalah makhluk sebagai pelaksana perintah.


2. Bentuk-Bentuk Lafadz Amar


Ada beberapa bentuk amr yang terdapat dalam al-Qur’an:


a. Perintah yang jelas-jelas menggunakan fi’il amr


Seperti dalam surat an-Nisa ayat 4:


 وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا


“Dan berikanlah kepada perempuan (dalam perkawinan) mas kawinnya dengan ikhlas; tetapi jika dengan senang hati mereka memberikan sebagian darinya kepadamu, terimalah dan nikmatilah pemberiannya dengan senang hati.”



b. Kata perintah yang menggunakan fi’il mudhari’ (bentuk sedang atau akan terjadi) yang didahului oleh lam al-amr


Seperti dalam surat Ali Imran ayat 104:


وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون


“Hendaklah di antaramu ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh orang berbuat yang benar dan melarang perbuatan mungkar. Itulah orang-orang yang beruntung.”



c. Kata kerja perintah yang berbentuk isim fi’il amr


Seperti dalam surat al-Maidah ayat 105:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ


“Hai orang yang beriman, Jagalah dirimu sendiri. Orang yang sesat tidaklah merugikan kamu jika kamu sudah mendapat petunjuk. Kepada Allah kamu semua akan kembali. Kemudian diberitahukan kepadamu mengenai apa yang sudah kamu lakukan.



d. Kata kerja perintah berbentuk masdar pengganti fi’il


Seperti dalam surat al-Baqarah ayat 83:


وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ


“Dan ingatlah ketika Kami menerima ikrar dari Bani Israil; tidak akan menyembah selain Allah, berbuat baik kepada orang tua dan kerabat, kepada anak yatim dan orang miskin dan berbudi bahasa kepada semua orang; dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Tetapi, kemudian kamu berbalik, kecuali sebagian kecil di antara kamu (masih juga) menentang.”


 3. Ragam Makna Amar


Terkadang sighat amr dipakai untuk hal-hal yang bermacam-macam, sesuai dengan tanda-tanda (Qarinah) yang menunjukkan ke arah itu, antara lain:


a. Sunat (للندب)


فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا


“Maka hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka (budak) jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka.” (Q.S. an-Nur: 33)


b. Memberi petunjuk/bimbingan (للارشاد)


وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ


“Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli.” (Q.S. al-Baqarah: 282)


c. Amr bermakna do’a, ketika disampaikan pihak yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi kedudukannya.



رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً …



“Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat..” (Q.S. al-Baqarah: 201)


d.Ancaman (للتهديد)


…اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ…


”…Perbuatlah apa yang kamu sukai…” (Q.S. Fussilat: 40)


e. Memuliakan (للاكرام)


ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ


“Masuklah ke dalamnya (surga) dengan sejahtera lagi aman.” (Q.S. al-Hijr: 46)


f. Melemahkan (للتعجيز)


فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِه


“Buatlah satu surat saja semisal dengan al-Qur’an itu.” (Q.S. al-Baqarah: 24)


g. Kebolehan (للاباحه)


وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا


“Dan makan dan minumlah; tetapi jangan berlebihan.” (Q.S. al-A’raf:31)


4. Kaidah-kaidah Amar


a. Kaidah pertama:


  الاصل فى الامر للوجوب ولا تدل على غيره الا بقرينة


“Amr pada dasarnya menunjukkan arti wajib, kecuali adanya qarinah-qarinah tersebut yang memalingkan arti wajib tersebut.”


Contoh:


{وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاة} [النساء: 77]


“Dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat.” (Q.S. an-Nisa: 77)


b. Kaidah kedua:


الامر بالشيء يستلزم النهي عن ضده


  “Amr atau perintah terhadap sesuatu berarti larangan akan kebalikannya.”


Contoh:


وَاعْبُدُوا الله [النساء: 36]


”Dan Sembahlahlah Allah…” (Q.S. an-Nisa: 36)


Perintah mentauhidkan Allah atau menyembah Allah berarti larangan mempersekutukan Allah.


c. Kaidah ketiga:


  الامر يقتضى الفور الا لقرين


“Perintah itu menghendaki segera dilaksanakan kecuali ada qarinah-qarinah tertentu yang menyatakan jika suatu perbuatan tersebut tidak segera dilaksanakan.”


Contoh:


فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَات


”…Berlomba-lombalah kamu dalam mengejar kebaikan…” (Q.S. al-Baqarah: 148)


d. Kaidah keempat:


الأمر لا يقتضى الفور


“Suatu suruhan atau perintah itu tidak menghendaki kesegeraan dikerjakannya.”


Contoh:


وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجّ


”Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji (Q.S.Al-Hajj:27)


e. Kaidah kelima:


الاصل فى الامر لا يقتضى التكرار


“Pada dasarnya perintah itu tidak menghendaki pengulangan (berkali-kali mengerjakan perintah), kecuali adanya qarinah atau kalimat yang menunjukkan kepada pengulangan. “


إذا عُلِّق الأمر على شرط, أو صفة فإنه يقتضي التكرار



“Apabila mengaitkan perintah kepada syarat atau sifat maka sesungguhnya menghendaki pengulangan.”


Contoh:


وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لله


“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (Q.S. al-Baqarah: 196)


f. Kaidah keenam:


الأمر بعدالنهي يفيدالاباحة


”Perintah setelah larangan menunjukkan kebolehan.”


Contoh:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْع


“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dipanggil untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli…” )Q.S. al-Jumu’ah:9)



فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ الله


”Apabila shalat sudah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah…” (Q.S. al-Jumu’ah:10)


2. Pengertian Nahi


Lafadz nahi secara bahasa adalah النهيyang berarti larangan. Sedangkan menurut istilah para ulama mendefinisikan nahi sebagai berikut: 


 النهي هو طلب الترك من اَلعلى الى ادنى


“Nahi adalah tuntutan meninggalkan sesuatu yang datangnya dari orang yang lebih tinggi tingkatannya kepada orang yang lebih rendah tingkatannya”. 


Khalid Abdurrahman mengartikan bentuk nahi sebagai perkataan atau ucapan yang menunjukkan permintaaan berhenti dari suatu perbuatan, dari orang yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah.  


An-nahy meenurut Sayyid Ahmad al-Hasyimi, merupakan tuntutan untuk mencegah berbuat sesuatu yang datang dari atas 


2. Bentuk -bentuk Lafadz Nahi


Kata-kata yang menunjukan kepada larangan itu ada kalanya dalam bentuk:


a.fi’il mudhari’ yang diseratai La nahiyah, seperti:



“Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi…” (Q.S. al-Baqarah: 11)



b. Lafadz-lafadz yang memberi pengertian haram, perintah meninggalkan sesuatu perbuatan,


seperti:


“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q.S. al-Baqarah: 275)


3. Kaidah-Kaidah An-Nahl 


a. Kaidah pertama:


األصل في النهي للتحريم


“Pada dasarnya larangan itu untuk mengharamkan (sesuatu perbuatan yang dilarang).”


Atau dalam kitab lain disebutkan:


النهي يقتضي التحريم والفور والدوام إَل لقرينة


“Nahi menghendaki atau menunjukkan haram, segera untuk dilarangnya, kecuali ada qarinah- qarinah tertentu yang tidak menghendaki hal tersebut.” 


Contoh:


“Dan janganlah kamu mendekati zina.” (Q.S. al-Isra’: 32)


Lafadz nahi selain menunjukkan haram sesuai dengan qarinahnya juga menunjukkan kepada arti lain, seperti: 



”Wahai Tuhan kami janganlah Engkau menyiksa kami, jika kami lupa (Q.S.Al-Baqarah:286)


2). Irsyad memberi petunjuk seperti:


”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkanmu (Q.S.Al-Maidah:101)


3). Tahqiq (menghina) seperti:


”Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup (Q.S.Al-Hijr:88)


4). Ta’yis (menunjukkan putus asa) seperti: 


“Setiap perkara yang tidak ada perintah kami, maka ia tertolak”.


Contoh:


“Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi…” (Q.S. al-Baqarah: 11)


c. Kaidah ketiga:


النهي عن الشئ أمربضده


“Larangan terhadap sesuatu berarti perintah kebalikannya.”


Contoh:


“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) Berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. al-Ma’idah: 90) 


d.Kaidah keempat:


اَلصل في النهي المطلق يقتضي التكرار في جمع اَلزمنة


“Pada dasarnya larangan yang mutlak menghendaki pengulangan larangan dalam setiap waktu.”


Contoh:


“Dan janganlah kamu mendekati zina.” (Q.S. al-Isra’: 32)


Apabila ada larangan yang tidak dihubungkan dengan sesuatu seperti waktu atau sebab-sebab lainnya, maka larangan tersebut menghendaki meninggalkan yang dilarang itu selamanya.



Namun bila larangan itu dihubungkan dengan waktu, maka perintah larangan itu berlaku bila ada sebab,  


Seperti: Q.S.An-Nisa’:43


”Janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk”. (Q.S.An-Nisa’:43)


Pada dasarnya larangan yang mutlak menghendaki pengulangan larangan dalam setiap waktu.


Bagi para mufassir sangat penting untuk mengetahui kaidah-kaidah tersebut karenamemudahkan dalam menafsirkan Al-Quran terutama ayat-ayat yang berhubungan dengn penggalian suatu hukum.

Komentar

Postingan Populer