Sejarah Indonesia Akulturasi dan Budaya Islam

Nama: Navira Millati Azka

Kelas : X Ips

Mapel: sejarah Indonesia

    AKULTURASI DAN BUDAYA ISLAM

1.Seni Bangunan 

Pada pada zaman perkembangan Islam seni bangunan yang menonjol adalah masjid dan menara Nya serta makam.

a.Masjid dan Menara 

Seni bangunan Islam yang menonjol adalah masjid bangunan masjid yang ada di Jawa berbentuk seperti pendopo yaitu balai atau ruang besar tempat rapat dengan komposisi ruang yang berbentuk persegi dan beratap tumpang di timur tengah bagian atap bangunan masjid biasanya berbentuk kubah tetapi di Jawa diganti dengan atap tumpang dengan sejumlah susunan bertingkat 2,3 dan 5.

Fungsi utama masjid adalah sebagai tempat beribadah bagi orang Islam dalam bahasa Arab mungkin berasal dari bahasa Arab atau bentuk bebas dari perkataan sajadah yang artinya merebahkan diri untuk bersujud sebenarnya masih mempunyai fungsi yang luas yaitu sebagai pusat untuk untuk penyelenggaraan kegiatan keagamaan Islam pusat untuk mempraktikkan ajaran ajaran persamaan hak dan persahabatan di kalangan umat Islam masjid dapat dianggap sebagai pusat kebudayaan bagi orang muslim.

Sebutan masjid di Indonesia bermacam-macam yaitu dalam bahasa jawa masjid disebut masjid dalam bahasa Sunda disebut Masigit dalam bahasa c disebut dan dalam bahasa Makassar dan Bugis disebut masigi.

Ciri ciri bangunan masjid di Indonesia.

1. Atapnya berupa atap tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dan tingkat yang paling atas berbentuk limas atap masjid biasanya diberi lagi sebuah puncak yang dinamakan mustaka

2. Tidak ada menara yang berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan hanya ada beberapa bangunan masjid yang menggunakan menara yaitu masjid agung Cirebon dan masjid menara Kudus masjid agung Banten dan masjid Tambora di Jakarta.

3. Umumnya meski didirikan di ibu kota atau dekat istana kerajaan di Indonesia penempatan masjid khususnya masjid agung diatur sedemikian rupa sesuai dengan komposisi macapat masih di tempatkan di sebelah barat alun-alun dekat dengan istana yang merupakan simbol bersatunya rakyat dan raja.

Masjid-masjid kuno dapat dibagi menjadi beberapa kelompok sebagai berikut:

1. Masjid kuno yang atapnya bertingkat dua.

a.masjid agung Cirebon dari abad ke 16

b.masjid Katangka di Sulawesi Selatan dari abad ke 17

c.masjid masjid di Jakarta,Angke dan marunda dari abad ke 18

2. Masjid kuno yang atapnya bertingkat tiga.

a.masjid Demak awal abad ke 16

b.masjid agung Banten dari abad ke 16

c.maajid Jepara 

d.masjid Ternate 

Pada masjid-masjid kuno di Indonesia untuk menandai datangnya waktu salat dengan memukul bedug atau keuntungan adanya keuntungan atau bedug tersebut menunjukkan adanya unsur Indonesia asli berikut ditemukan tiga jenis masjid untuk mengetahui perkembangan masjid sebagai bangunan.

1. Masjid Tradisional,merupakan jenis masjid yang pertama kalinya ada di Indonesia masjid tradisional telah dilengkapi dengan pendopo, Mihrab,bedug, dan kentongan Mihrab berfungsi sebagai tempat imam masjid pemimpin salah pendopo berfungsi sebagai tempat bagi anak-anak belajar membaca kitab suci Alquran.

2. Masjid Makam,merupakan perpaduan antara masjid dan makam.Di belakang masjid tradisional di Jawa biasanya terdapat makam para wali maupun para kerajaan Islam raja kerajaan Islam.contoh masjid makam di Jawa antara lain masjid makam Banten Demak Kudus dan Sendang duwur masih kuatnya animisme tersebut terlihat pada makam makam seperti di makam Air mata Ibu makam kalau payung di Pamekasan yaitu makam pangeran jimat dan makam Selaparang di Lombok Timur.

3.Masjid Modern, yang dibangun dengan arsitektur modern dan bahan-bahan yang digunakan juga sudah modern bangunan masjid modern terdiri dari tembok beton keramik atau marmer dan tentunya dari bahan yang kuat seperti keramik ciri masjid modern terlihat nyata pada arsitektur masjid yang dipengaruhi oleh budaya Persia dan India ciri lain pada masa modern adalah banyaknya masjid modern yang memakai kubah satu ciri yang menonjol dari masjid modern adalah telah dilengkapi dengan menara yang berfungsi sebagai tempat para muadzin untuk memenangkan SN contoh masjid modern yang dibangun sebelum Indonesia merdeka diantaranya masjid Baiturrahman di Banda Aceh dan masjid Maimun di Medan pada masjid modern tidak dikaitkan dengan makam tetapi masih menara sentra bermacam-macam kegiatan seperti sekolah madrasah majelis ta'lim pengajian balai pertemuan dan tempat seminar atau ceramah.

b.Makam

Makam merupakan tempat dikuburkannya orang yang sudah meninggal. Bangunan yang ada di atas makam sangat ditentukan oleh siapa dan kedudukan apa yang dia miliki pada saat seorang raja meninggal maka dia akan dimakamkan pada sebuah tempat yang mirip dengan istana ada beberapa makam didirikan atau pintu akun seperti pintu gerbang di Indonesia makam-makam yang berasal dari masa Islam awal yang berhasil ditemukan di antaranya sebagai berikut:

1.Nisan Raden patah,Jateng 

2.Nisan Sayyid Abdurrahman,Kalbar 

3.Nisan Raja Sabukingking, Sumsel 

4.Nisan Sultan Abdul Kadit, Sulsel

5.Nisan Pangeran Jayakarta, Jakarta

Maksudnya lokasinya di dekat masjid agung bekas kota pusat kesultanan antara lain sebagai berikut 

1.makam sultan-sultan Demak di samping masjid agung Demak

2. makam raja-raja Mataram Islam Kotagede di DIY

3.makam sultan sultan Palembang  

4.makam sultan sultan di daerah Nanggroe Aceh Darussalam 

5.makam sultan sultan Siak Indrapura Riau.

Ada beberapa makam yang tempatnya berada di daerah dataran tersebut antara lain makam sunan Bonang di Tuban makam sunan Kalijaga di kadilangu Demak makam sunan Kudus di Kudus dan makam Datuk ribandang di takalar Sulawesi Selatan adanya makam-makam di tempat-tempat tinggi masih menunjukkan kesinambungan tradisi yang mengandung unsur kepercayaan pada roh nenek moyang yang sebenarnya sudah dikenal dalam pendirian punden berundak tradisi tersebut dilanjutkan pada masa kebudayaan Indonesia Hindu Buddha yang diwujudkan dalam bentuk bangunan bangunan yang disebut Candi contohnya seperti candi di a ketinggian 2000 m diatas permukaan laut.

 Makam yang lokasinya di atas bukit adalah yang dianggap paling dihormati misalnya sunan gunung jati atau Syarif Hidayatullah di gunung sembung di bagian teratas kompleks pemakaman Imogiri adalah makam Sultan agung hanyokrokusumo.

Pada umumnya makam wali songo dan Sultan ditempatkan dalam bangunan yang disebut Jungkook yang masih bergaya kuno dan dalam bangunan yang sudah diperbarui.

 Selain bangunan makam juga ada tradisi pemakaman yang sebenarnya bukan berasal dari ajaran Islam seperti jenazah dimasukkan ke dalam peti serta pada hari ke-3 ke-7 ke-40 ke 100,satu tahun 2 tahun dan  1000 hari diadakan selamatan selamatan dan saja yang terdapat dalam unsur pengaruh kebudayaan pra Islam tetapi doa-doanya secara Islam hal tersebut jelas menunjukkan adanya paduan bangunan tersebut disebut jirat atau kucing di atas jirat sering di dirikan rumah yang di atas disebut cungkup.

2.Seni Ukir 

Pada masa perkembangan Islam zaman madya berkembang ajaran bahwa seni ukir patung dan melukis makhluk hidup apalagi manusia secara nyata tidak diperbolehkan di Indonesia acara tersebut ditaati dan hal tersebut menyebabkan seni patung di Indonesia pada zaman madya kurang dapat berkembang pada seni patung pada masa sebelum zaman media sangat berkembang baik untuk patung bentuk binatang.

Banyak bangunan Islam yang dihiasi dengan berbagai motif ukiran ukiran seperti ukir-ukiran pada pintu atau diam pada bangunan Keraton rukun masjid serta pada gapura atau pintu gerbang seni hias atau seni ukir juga dikembangkan dengan bentuk tulisan Arab yang dicampur dengan ragam hias yang lain pada seni kaligrafi yang membentuk orang, binatang atau wayang.

3.Aksara dan Seni Sastra 

Terbesarnya Islam di Indonesia berpengaruh dalam bidang aksara atau tulisan huruf Arab digunakan di bidang seni ukir seni kaligrafi ini juga mewarnai perkembangan seni rupa Islam di Indonesia kalimat yang bersumber dari ayat-ayat Alquran dan hadits bila dibandingkan dengan negara lainnya perkembangan seni kaligrafi Arab di Indonesia kurang begitu pesat hal tersebut disebabkan oleh hal-hal berikut 

a.penggunaan seni kaligrafi Arab sebagai hiasan di Indonesia masih terbatas

b.bangunan-bangunan kuno pada permulaan berdirinya kerajaan Islam kurang memberi peluang bagi penerapan seni kaligrafi 

c.bangunan masjid-masjid kuno seperti masjid Banten Cirebon Demak dan Kudus kurang memperhatikan penggunaan seni kaligrafi Arab.

Di samping ma'ruf sastra Islam dan persia perkembangan zaman madya tidak terlepas dari pengaruh unsur sastra sebelumnya oleh karena itu terjadi akulturasi antara sastra Islam dan sastra yang berkembang di zaman pra Islam seni sastra zaman Islam berkembang terutama di wilayah dan Jawa beker jenis-jenis seni sastra bila dilihat dari corak dan isinya.

a.Hikayat, yaitu karya sastra yang berisi cerita sejarah ataupun dongeng penulisan. 

b.babad seperti tulisan sejarah tetapi isinya tidak selalu berdasarkan fakta isinya campuran antara fakta sejarah mitos dan kepercayaan.

c.syair syair berasal dari perkataan Arab untuk menanamkan karya sastra berupa sajak sajak yang terdiri dari empat baris setiap baitnya.

d.Suluk merupakan karya sastra berupa kitab-kitab isi Suluk menjelaskan soal-soal tasawuf berikut beberapa contoh suluk:suluk sukarsa suluk wujil dan suluk Malang sumirang.

4.Kesenian 

Indonesia Islam masukan kesenian yang bernafaskan Islam yang tujuannya adalah untuk menyebarkan ajaran Islam.berikut contoh kesenian tersebut:

a.permainan debus,merupakan tarian yang pada puncak acara para penari menusukkan benda tajam ke tubuhnya tanpa meninggalkan luka terindah ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat al-quran dan shalawat nabi tarian debus terdapat di Banten dan Minangkabau 

b.seudati merupakan bentuk tarian dari Aceh eh seudati ini sering disebut dengan saman yang artinya 8 para pemain menyanyikan lagu yang berisi sholawat nabi.

c.wayang pertunjukan wayang sudah berkembang sejak zaman Hindu tetapi pada zaman Islam terus dikembangkan. berdasarkan cerita Amir Hamzah dikembangkan pertunjukan wayang golek.

5.Bidang Kalender

Di Indonesia telah mengenal sistem kalender sebelum datangnya pengaruh hindu-buddha dari India pada saat itu karena Indonesia menggunakan perhitungan 1 pekan.1 pekan terdiri dari 5 dan 7 hari kedua perhitungan itu digunakan bersama-sama dengan berkembangnya kalender media kedua kali itu dipadukan menjadi kalender Saka yang dilengkapi dengan hari pasaran (Pon Wage Kliwon legi dan pahing).

Ketika pengaruh agama dan budaya Islam masuk ke Indonesia peninggalan Islam berupa kalender hijriah bumi termasuk kalender Hijriyah menggunakan perhitungan peredaran bulan (Lunar sydtem) penggunaan kali ciri awalnya menimbulkan masalah di kalangan masyarakat Indonesia karena pemakaian kalender hijriah tidak sama dengan kalender yang selama ini digunakan yaitu kalender Saka yang menggunakan penghitungan peredaran matahari (solar system)akibatnya muncul usaha untuk memperbarui kalender dengan menggabungkan kedua sistem kalender tersebut.

Perwujudan akulturasi dalam sistem kalender jelas terlihat pada zaman Mataram Islam raja Mataram Sultan agung pada saat itu memutuskan bahwa Mataram secara resmi tidak menggunakan kalender Saka tetapi juga tidak menggunakan hijriah namun yang digunakan adalah kalender Saka yang diperbarui dalam kalender itu angka tahunnya meneruskan angka tahun Saka tetapi perhitungan kalender mengambil dari kalender Hijriyah yaitu sistem bulan kalender baru ini berlaku pada tanggal 8 Juli 1633 dengan tanggal 1 Muharram 1403 ha jadi kalender baru dimulai pada tanggal satu suro 1555 dan tahun itu disebut tahun Jawa.

6.Upacara 

a.Upacara Selamatan atau Bancaan 

Selamatan berasal dari bahasa Arab Salamah yang berarti selamat upacara selamatan ini ditunjukkan untuk meminta keselamatan bagi seorang atau salah satu anggota keluarga.selamatan atau bancaan merupakan bentuk akulturasi antara budaya pra Islam dan budaya Islam dalam upacara ini dilakukan perubahan-perubahan doa-doa yang dipanjatkan pada zaman hindu-budha doa-doa ditunjukkan kepada dewa-dewa Hindu sedangkan pada zaman Islam 2 doa yang dipanjatkan merupakan doa-doa yang islami yang ditunjukkan hanya kepada Allah subhanahu Wa ta'ala berikut jenis upacara selamatan atau bancaan.

1.Upacara Daur Hidup

Upacara daur hidup merupakan upacara yang terkait dengan upacara-upacara sepanjang lingkaran hidup manusia menurut Affan Gaffar rangkaian upacara panjang lingkaran hidup merupakan bentuk tertua dari semua aktivitas keagamaan dan kebudayaan manusia berikut macam-macam daur hidup yang masih dapat ditemukan utamanya di pulau Jawa:

a.Tingkeban, upacara yang diadakan pada saat usia kandungan mencapai 7 bulan.

b.melahirkan,orang tua mengumandangkan adzan pada telinga anak yang baru lahir dan diikuti dengan upacara tertentu.

c.selamatan,brokohan adalah upacara memberi nama pada bayi. 

d.aqiqah,upacara pemotongan rambut bayi pada hari ketujuh 

e.Tedak siten, keselamatan pada saat bayi berumur 7 bulan atau upacara menyentuh tanah. 

f.khitanan, upacara sunatan

g. pemakaman,upacara menyemayamkan mayat 

2.Upacara Tahunan 

Berikut contoh upacara tahunan 

a.syawalan(peringatan hari raya idul Fitri)

b.Surahan(peringatan tahun baru hijriah)

c.Mauludan(upacara peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw).

b.Haul 

Haul merupakan peringatan genap satu tahun seseorang meninggal.kata haul  berasal dari bahasa Arab yang artinya setahun.untuk rangkaian acara haul biasanya dapat bervariasi ada pengajian dan tahlil Akbar.

c. Upacara sekaten

Kebiasaan merayakan hari besar upacara keagamaan dan kenegaraan sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit setelah masuknya agama dan kebudayaan Islam upacara tersebut diwarnai dengan unsur-unsur islami pada mulanya upacara Sekaten merupakan upacara aswamedha dan Asmaradana yang dilakukan.

Pada zaman pemerintahan Batara prabu Brawijaya v dari kerajaan Majapahit terakhir pada zaman kekuasaan kerajaan Demak upacara tersebut oleh sunan Kalijaga diubah menjadi upacara Sekaten.Sekaten tersebut merupakan penyesuaian makna dari nama jimatkalimasada yang berarti kalimah usaha obat mujarab dari Dewi kali pada zaman Islam kalimasada mendapat makna baru yaitu kalimat syahadat pada masa Sultan agung hanyokrokusumo upacara Sekaten diadakan meriah bahkan upacara Sekaten sampai sekarang tetap dilakukan setiap tahun di Keraton Surakarta dan Yogyakarta sebagai penerus kerajaan Mataram Islam.








Komentar

Postingan Populer